1. Pengertian Dukun dan Mantra
Ada Umat Islam yang memilih mantra sebagai do'a dengan tujuan khusus dan aneh, misalnya ingin bisa terbang atau menghilang (Ilmu Halimun). Terlebih mantra ilmu asihan (Pemikat Cinta/Pelet),
ilmu yang disebut daun cinta ini banyak peminatnya, terutama kalangan
muda. Mereka menganggap dengan dengan ilmu tersebut orang menjadi terpikat atau tergila-gila.
2. Peranan dan Metode Dukun Dalam Masyarakat
Dalam masyarakat animisme, peranan dukun dianggap begitu penting disamping kepercayaan mereka terhadap zat ruh dan benda-benda. namun tidaklah tepat jika kita menempatkan terminologi dukun hanya pada konteks masyarakat animisme.
Sebab kini banyak kepercayaan orang terhadap dukun yang bukan berasal
dari faham animisme. Bahkan tidak sedikit dalam masyarakat Islam,
seperti santri atau kyai, yang secara khusus membuka praktik perdukunan, yang oleh orang awam disebut "Ahli Hikmah."
Praktik klenik para dukun affakin atsim
itu memang telah mewabah di negeri ini, dan pengaruhnya telah merasuk
dalam masyarakat Islam. Akibatnya banyak penyelewengan yang dialakukan
umat Islam, seperti mereka berduyun-duyun mendatangi dukun sekedar
meminta ramalan, jodoh, nomor undian (buntut), dll.
Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka tertipu oleh kedustaan
dukun. Tidak ada niat baik seorang wakil setan, kecuali menyesatkan
orang. Tujuan pokok mereka jelas-jelas komersil, yang hanya mengeruk
keuntungan material ketimbang memikirkan kerugian moral. Untuk
menjerat mangsanya, para dukun menggunakan berbagai metode dan nama
berbeda . Bahkan tak sedikit yang meminjam identitas islam. Ada yang
mengaku dirinya ahli hikmah, ahli petunjuk ghaib, ahli pengobatan
mujarab, dan sebagainya. astaghfirullaahal 'adziim.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sejak jaman dulu hingga
jaman modern ini, praktek dukun masih banyak dilakukan orang, termasuk
oleh umat Islam. Yang paling banyak dilakukan umat Islam sekarang ini
ialah praktek dukun yang mengambil berita dari jin (setan). Berita ghaib tersebut diterima si dukun dan kemudian disampaikan kepada si pasien. Orang awam (bodoh)
umumnya beranggapan bahwa berita tersebut merupakan sesuatu yang luar
biasa, sedangkan dukun yang membawa kabar mereka dianggap sebagai orang
suci atau lebih populer dengan istilah "Orang Pintar". Bahkan ada yang menganggap dukun itu wakil Allah.
Padahal sebenarnya mereka itu tertipu, sebab dukun digambarkan dalam
al-Qur'an sebagai teman setan yang akan menyesatkan manusia. Allah Ta'al
berfirman:
وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعً۬ا يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ
Dan
[ingatlah] hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, [dan
Allah berfirman]: "Hai golongan jin [syaitan], sesungguhnya kamu telah
banyak [menyesatkan] manusia", ... (Q.S. Al-An'am:128).
Dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 222, dukun itu disebut sebagai affakin atsim yaitu manusia pendusta, karena mereka selalu menerima bisikan setan yang menyuruhnya berbuat bohong.
3. Cara Setan Mencuri Berita
Adapun cara setan membawa berita bohong dikemukakan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:
"Setan itu mendengar
kata-kata yang benar dari langit yang datang dari Allah swt., tapi
kemudian mereka menambahkan kata-kata bohongnya yang disampaikan kepada
dukun.Maka itulah sebabnya mengapa dukun berbuat bohong di bumi ini." [3].
Mengenai kebohongan
dukun juga diceritakan oleh seorang sahabat Nabi seperti tertera dalam
hadits: Sahabat Nabi bertanya kepada Nabi saw. tentang dukun (peramal).
Nabi saw. menjawab: 'Sesungguhnya mereka
tidak mempunyai (pengetahuan) apa-apa.' Sahabat tadi bertanya lagi, 'Ya
Rasulullah, sesungguhnya mereka mengatakan sesuatu itu benar.' Jawab
Nabi saw., 'kata-kata itu datangnya dari Yang Haq (Allah swt.) yang
disampaikan oleh setan kepada telinga wakil-wakil nya (dukun) seperti
suara ayam jago berkokok, dan setan mencampurkan berita itu dengan
kata-kata bohong lebih seratus macam." [4].
4. Larangan Islam Terhadap Jimat dan Mantra, Jampi, Rajah
Jimat merupakan
hal yang tidak asing lagi bagi kita, karena tersebar beragam jenisnya.
Bahkan, jimat tersebut sudah menjadi “komoditi dagang” yang laris
diperjualbelikan seperti halnya mantra-mantra, rajah-rajah, batu akik pelancar rezki, sabuk bertuah, liontin ajaib,
kain dan semacamnya. Kini benda-benda itu bukan lagi sekedar benda
mati, tapi telah “naik kelas”, karena diyakini bisa memberikan
perlindungan atau kekebalan, mendatangkan rezeki, ataukah pemikat lawan
jenis. Namun yang jadi pertanyaan, bagaimana hal ini jika ditimbang oleh
syari’at, adakah ia dalam islam?
- Agama Islam sudah sempurna. الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا. “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan nikmatKu kepada kalian dan telah Kurhidhoi Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3). Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia Allah -Ta’ala- yang paling besar terhadap umat ini, di saat Allah telah menyempurnakan agama bagi mereka, maka mereka pun tidak butuh lagi kepada agama yang lain dan tidak kepada nabi yang lain selain Nabi mereka -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi. Dia telah mengutus beliau kepada bangsa manusia dan jin. Jadi, tidak ada perkara yang halal, selain yang beliau halalkan dan tidak ada perkara yang haram selain yang dia haramkan, serta tidak ada ajaran agama selain yang dia syariatkan.[5].
- Ikutilah apa yang sudah dijelaskan Syari'ah. Nabi -Saw. bersabda ; مَا بَقِيَ شَيْئٌ يُقََرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ “Tiada suatu perkara yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” [6]. Jadi, segala perkara kebaikan yang bisa mengantarkan seseorang meraih surga telah dijelaskan dan dituntunkan dalam syari’at. Demikian pula sebaliknya, segala perkara yang jelek bila menjerumuskan seseorang ke dalam neraka, telah dijelaskan dalam syari’at. Seandainya jimat ini adalah perkara disyari’atkan, tentunya kita akan mendapatkan tuntunannya dalam syari’at dan pastilah Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, dan imam-imam setelahnya adalah orang yang pertama kali mengejakannya. Namun, jika kita tidak dapatkan hal tersebut dikerjakan oleh mereka, maka hal tersebut bukanlah perkara yang baik, bahkan termasuk kepada hal-hal yang diada-adakan di dalam syari’at yang telah sempurna ini, yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dan Rasul-Nya berlepas diri dari hal-hal tersebut.
- Hadits Larangan Menggunakan Jimat, jampi, dan guna-guna. Dari Ibnu Mas’ud r.a., Rasulullah saw. mangisyaratkan tentang jimat dan hukumnya, إِنَّ الرُّقَى وَالتَمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.” [7]. Syaikh Muhammad Al-Wushobiy Al-Yamaniy berkata dalam mengomentari hadits ini, “Bisa dipetik hukum dari hadits ini tentang haramnya menggantungkan jimat, baik pada manusia, hewan, kendaraan, rumah, toko, pohon, atau selainnya. Apakah sesuatu yang dgantungkan itu berupa tulang, tanduk, sandal, rambut, benang-benang, batu-batu, besi, kuningan, atau yang lainnya, karena perkara tersebut, di dalamnya ada bentuk penyandaran sesuatu kepada selain Allah, (yang ia itu adalah kesyirikan )”. [8]. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga pernah bersabda, مَنْ عَلَّقَ تمَِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ “Siapa yang menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.” [9].
5. Islam Punya Bacaan Yang Syar'i
Mereka tidak menyadari bahwa Islam punya ayat-ayat al-Qur'an atau do'a-do'a yang
telah diajarkan Rasulullah saw. Bacaan-bacaan tersebut dapat digunakan
untuk berbagai keperluan, baik keperluan dunia maupun keperluan akhirat.
Sehubungan dengan ini, Ibnu Abbas r.a.
mengatakan (dalam kitab tafsirnya) bahwa dari jumlah ayat-ayat
al-Qur'an yang 6666 ayat terdapat sejumlah ayat yang berisi dzikir, doa
tasbih, tahmid dan istighfar.
Rincian jelasnya sebagi berikut:
- Ayat yang menunjukkan perintah ada 1000 ayat,
- Larangan 1000 ayat,
- Ancaman 1000 ayat,
- Janji 1000 ayat,
- Proses kejadian masa lampau dan mendatang 1000 ayat,
- Contoh-contoh 1000 ayat,
- Halal-haram 500 ayat,
- Nasikh-mansukh 100 ayat,
- Dzikir, doa' tasbih dan tahmid dan istighfar 66 ayat.
Selain ayat-ayat al-Qur'an dan do'a-do'a Rasul, juga banyak do'a yang ditulis oleh ulama Salafus Saleh. Do'a-do'a mereka itu bisa dijadikan standarisasi bacaan
wirid bagi setiap Muslim karena pada dasarnya sumber acuan yang mereka
ikuti juga al-Qur'an dan As-Sunnah. Umat Islam tidak seharusnya
menggunakan mantra sebagai doa, sebab mantra adalah bacaan yang dilarang
Islam, sementara pelakunya termasuk Syirik.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ
ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Bid'ah-Bid'ah di Indonesia hal.97-100, 136-137; Drs. KH.Badruddin Hsubky, Penerbit: Gema Insani Pers.
Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
***
Bid'ah-Bid'ah di Indonesia hal.97-100, 136-137; Drs. KH.Badruddin Hsubky, Penerbit: Gema Insani Pers.
Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
***
[1].
Syekh Abdurrahman bin Hasan Ali, Fathul Majid, hal. 235, Riyadh 1983,
juga Bey Arifin, Bersihkan tauhid anda dari Noda Syirik, hal 92-93.
[2]. Al-Jamil'ul Farid hal. 124.
[3]. Syek Ismail Abil Fida, Ibnu Katsir op.cit. hal. 354.
[4]. H.R. Bukhari-Muslim dari 'Aisyah)
[5]. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/14) cet. Darul Ma'rifah].
[6].
(HR. Ath-Thabranydalam Al-Kabir (1647), di-shohih-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1803), dan Syaikh Ali bin Hasan
Al-Atsariy dalam ‘Ilmu Ushul Al-Bida’ (hal.19)].
[7].
[HR. Abu Dawud (3883). Hadits ini di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albany
dalam Shohih Al-Jami' (1632), dan di-hasan-kan oleh Syaikh Muqbil bin
Hadi Al-Wadi'iy dalam Al-Jami' Ash-Shohih (3/499)].
[8].[Lihat Al-Qaulul Mufid Fiadilati At-Tauhid (145 jilid 7)].
[9].
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/56), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak
(4/291). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam
Ash-Shohih (629), dan di-hasan-kan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami'
Ash-Shohih (6/294)]
Mengenal Asal-Usul Penciptaan Jin dan Hakikatnya Menurut Islam
1. Al-Qur'an Adalah Hidayah Bagi yang Mau Menerimanya
Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, plus ketidak-tahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah satu diantaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian itu cukup sudah sebagai jaminan bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan terjadinya dekadensi.
Itu sebabnya, maka
diturunkanlah akidah Islam yang komprehensif, memenuhi tuntunan emosi dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan
kebodohan, lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barangsiapa
mengikuti apa yang diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya,
kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Al-Qur’an, berarti dia telah memperoleh
petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Dan barangsiapa
menyimpang darinya, berarti dia telah disesatkan setan. Firman Allah Ta'ala: Atau
seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak,
yang di atasnya ombak [pula], di atasnya [lagi] awan; gelap gulita yang
tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat
melihatnya, [dan] barangsiapa yang tiada diberi cahaya [petunjuk] oleh
Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (Q.S. An-Nur: 40).
2. Jin dan Manusia Sama-Sama Menghuni Bumi.
Sepanjang jin
merupakan makhluk yang bersama-sama kita menghuni planet bumi ini, atau dengan
ungkapan yang lebih tegas “Kami (Allah) telah menempatkan mereka di bumi.” Dan
dia lebih dulu ada dibanding manusia, lalu dalam banyak hal dia juga bergaul
dengan manusia, memiliki keinginan dan kemempuan memilih antara baik dan buruk,
untuk kemudian melaksanakan salah satu diantara keduanya, dan sepanjang jin
juga merupakan makhluk yang dikenai kewajiban beribadah oleh syariat, dan
manusia – baik yang mukmin maupun yang kafir – mengetahui adanya makhluk ini,
maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam ghaib ini dari
pandangan kita, sekalipun kadang-kadang kita bisa merasakan kehadirannya.
Sementara itu sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang
tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam ghaib tersebut, sehingga kita tidak
tersesat dari jalan yang benar.
Dan jika orang-orang
kafir menisbatkan kepada jin berbagai kemampuan yang sebenarnya mereka tidak
miliki, seperti pengetahuan tentang yang ghaib, maka yang demikian itu
disebabkan karena kebodohan mereka. Akan tetapi bila hal seperti itu terjadi
pada sementara kaum Muslim, maka ia merupakan sejenis syirik dan bukan karena
kebodohan mereka. Sebab, bertanya adalah kunci pengetahuan, dan Al-Qur’an yang
dibaca dan didengar pun telah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui
yang ghaib kecuali Allah: Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang
ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah,
tidaklah mengikuti (suatu keyakinan), melainkan prasangka belaka, dan mereka
hanyalah menduga-duga (Q.S. Yunus: 66).
Beberapa Dalil Bahwa Iblis Bukan Golongan Malaikat
Sumber:
3. Iblis Bukan Dari Golongan Malaikat
Ada sebagian orang beranggapan bahwa Iblis (bangsa jin) berasal dari golongan Malaikat, mereka menyandarkan pemaknaan tersebut kala mengartikan firman Allah kala menyuruh para Malaikat sujud kepada Adam: Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ... (Q.S.Al-Baqarah: 34). Penafsiran semacam ini adalah aqliyah alias tafsir yang hanya berdasarkan akal atau ra'yu yang bertentangan dengan penjelasan Allah di ayat lain dan dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah saw. Indikator kengawuran ini sangat mudah dipatahkan jika kita menelusuri dari unsur apa kedua makhluk (antara Malaikat dan dan iblis ) diciptakan, jika unsurnya berbeda, jelas keduanya bukan jenis yang sama.Beberapa Dalil Bahwa Iblis Bukan Golongan Malaikat
- Allah swt. Berfirman: وَٱلۡجَآنَّ خَلَقۡنَـٰهُ مِن قَبۡلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ Dan Kami telah menciptakan jin sebelum [Adam] dari api yang sangat panas. (Q.S. Al-Hijr: 27).
- وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ۬ مِّن نَّارٍ۬ dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (Q.S. Ar-Rahman: 15).
- Ketika mengisahkan perkataan Iblis, Allah swt. Berfirman: قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۟ خَيۡرٌ۬ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ۬ Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam] di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".(Q.S.Al-A’raf: 12).
- وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin,(Q.S. Al-Kahfi: 50) .
- Imam Muslim dalam shahihnya mencatumkan sebuah hadits yang diterima dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin andiciptakan dari nyala (maarij) api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kalian.”[1]. Dengan demikian, baik Al-Qur’an maupun hadits telah menegaskan tentang materi asal penciptaan jin, yaitu api, sekalipun Al-Qur’an maupun As-Sunnah sesekali mengungkapnya dengan “nyala api” dan pada kali lain dengan “api yang sangat panas.”
- Imam an-Nawawi mengatakakan: “Yaitu jilatan api (al-lahab) yang bercampur dengan hitamnya api.”
- Ath-Thabari mengatakan, al-maarij ialah sesuatu yang bercampur satu sama lain, antara merah, kuning dan biru, berdasar ucapan orang-orang Arab yang mengatakan marija ‘amral-qauum yang berarti “urusan kaum itu bercampur aduk”. Juga berdasar ucapan Nabi saw. Kepada Abdullah bin ‘Amr ibn Al-‘Ash yang berbunyi: “Bagaimana halmu jika kamu berada di tengah-tengah suatu kaum yang perjanjian dan amanah mereka sudah bercampur baur...” [2]. Dengan demikian, arti maarij adalah nyala api dan lidah api. [3].
- Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan: “Al-Maarij adalah al-lahab (nyala api) dari Ibnu Abbas. Atau inti api, atau lidah api yang berada di puncak manakala api tersebut menyala.”
- Al-Laits mengatakan:: “Al=Maarij ialah api yang sangat terang yang memiliki nyala (panas) yang sangat kuat.”
- Ibnu Abbas mengatakan: “ Al-Maarij adalah nyala api yang berada di bagian atas, yang saling bercampur warnanya antara merah, kuning, dan biru.”
- Abu ‘Ubaidah dan Al-Hasan mengatakan: “Al-Maarij adalah campuran api . Ia berasal dari marija yang artinya bercampur-baur.”
- Al-Jauhari dalam Al-Shihah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Maarij min naar adalah api yang tidak berasap, yang dari itu jin diciptkan.”[4].
Makna Kata as-Samuum
- Imam An-Nasa’I dalam tafsirnya mengatakan: “ ... as-samuum ialah api yang sangat panas yang digunakan di tempat peleburan.” [5].
- Dalam Tafsir Al-Qurthuby dikatakan, “Diriwayatkan bahwa Allah swt. Menciptakan dua jenis api, yang satu sama lain bercampur, dan saling telan menelan, itulah naar as-samuum (api yang sangat panas).[6]. Masih dalam tafsir yang sama, Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan: “Naar as-samuum yang darinya jin diciptakan adalah satu bagian daari tujuh bagian api Jahannam.”
- Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa as-samuum ialah angin yang sangat panas dan mematikan. Di bagian lain Ibnu Abbas mengatakan bahwa as-samuum adalah api tanpa asap, dan halilintar terbuat darinya.”
- Qusyairi mengatakan bahwa “Angin panas disebut as-samuum karena ia masuk misaam tubuh (toxit).[7].
4. Kesimpulan:
- Berdasarkan uraian di atas, maka tidak ada perbedaan antara al-maarij dan as-samuum. As-Samuum adalah sifat yang ditambahkan dan penjelas bagi karakter al-maarij.
- Dengan seluruh penghormatan kita pada pendapat-pendapat para pendahulu kita, maka cukuplah di sini kita ketahui bahwa api ini mengandung ether yang menyebabkan ia begitu ringan, dan terdiri dari campuran berbagai warna yang menyebabkan makhluk yang terbuat darinya pun memiliki warna yang bermacam-macam, serta kemampuan memanjang dan meninggi yang menyebabkan makhluk-makhluk yang terbuat darinya pun mempunyai kecenderungan pada dua sifat ini. Allaahu a’lam.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Buku Dialaog denganJin Muslim, Muhammad Isa Daud, hal. 9 – 10, 22-24. Penerbit:Pustaka Hidayah.
***
[1].Ditahrij oleh Muslim dalam shahihnya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaaq, juz XVI, hal. 123.
[2].Ditakhrij
oleh Abu Daud dalam Sunan-nya Kitab al-Malaahim, Bab Al-‘Amr bil Ma’ruf
wa An_Nahy an Al-Munkar. Hadits yang sama ditakhrij oleh Ahmad bin
Hanbal dalam Musnadnya, dan Ibn Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitaan.
[3].Lihat Tafsir Ath-Thabary, Al-Babiy Al-Halabiy 1373 H, juz XVII hal. 126.
[4].Lihat Tafsir Al-Qurthubi, Dar Al-Sya’b juz VII hal. 6331, dengan sedikit perubahan.
[5].Tafsir An-Nasafiy, juz II. Hal. 272.
[6].Tafsir Al-Qurthuby, hal 6331.
[7]. Ibid, hal. 3639.
Hakikat Alam Jin dan Makhluk halus Menurut Ajaran Agama Islam
Maraknya tayangan tayangan tentang jin di media televisi hanya memasyhurkan setan. Yang berakibat semakin membesarkan dan mengagungkan Iblis dengan penuh rasa takut. Oleh karena itu buku ini perlu sekali dibaca dan dipahami oleh kaum muslimin. Agar kaum muslimin memahami permasalahan tentang alam jin sesuai Al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman para shahabat.
Secara khusus, buku yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakim ini membantah buku yang telah terbit sebelumnya yang ditulis oleh seorang wartawan Mesir, dengan judul terjemahan Indonesia “Dialog dengan Jin Muslim”. Wartawan Mesir yang bernama Muhammad Isa Dawud ini mengambil semua khabar untuk bukunya dari Jin Muslim sahabatnya. Yang berakibat mementahkan argumentasi ilmiah dalam
beragama, dengan hanya merujuk dari perkataan Jin Muslim sahabatnya
itu. Salah satu contohnya adalah penetapan suatu hadits itu sah atau
tidak dengan hanya merujuk pada perkataan Jin Muslim sahabatnya itu.
Dalam buku yang berjudul “Alam Jin Menurut Al Qur’an dan As Sunnah”,Abdul Hakim menjelaskan sepuluh hal tentang alam jin menurut Al Qur’an dan Sunnah.
1. Hakikat Alam Jin Menurut Islam
- Jin dikenakan taklif (kewajiban) seperti halnya manusia. Dalilnya ayat Al Qur’an (yang artinya) : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Adz-Dzaariyaat : 56).
- Jin ada yang mukmin dan ada juga yang kafir. Dalilnya ayat Al Qur’an (yang artinya) : “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang orang yang shalih dan diantara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda beda.” (Al-Jin : 11). Berkata Ust. Abdul Hakim : “Ada yang mukmin pengikut tariqah ahlus sunnah wal jama’ah menurut pemahaman salafush shalih, ada yang mukmin pengikut mu’tazilah dan ada yang mukmin pengikut ahlul bid’ah lainnya. (hal 19).
- Jin itu diciptakan lebih dahulu daripada manusia. Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) : “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Al-Hijr : 26-27).
- Jin adalah satu bangsa yang besar dan terbagi bagi, sehingga Iblis termasuk salah satu bangsa jin. Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) :“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang orang yang zalim.” (Al-Kahfi : 50).
- Manusia lebih mulia daripada jin. Dalilnya adalah Al Qur’an (yang artinya) : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang orang yang kafir.” (Al-Baqarah : 34). Berkata Ust. Abdul Hakim, “Oleh karena itu apabila ada manusia yang memohon pertolongan kepada jin, maka ia membuat jin semakin sombong, takabur, dan besar kepala.” (hal. 24).
- Jin, termasuk Iblis beserta kaumnya tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, manusia tidak bisa melihat jin (dalam rupa aslinya). Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) : “Hai anak Adam, janganlah sekali kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan setan itu pemimpin pemimpin bagi orang orang yang tidak beriman.” (Al-A’raaf : 27).
- Manusia itu dapat dirasuki oleh jin, dengan kata lain “kesurupan”. Dalilnya adalah Al Qur’an Surat Al-Baqarah : 275 (yang artinya) : “Orang orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al Baqarah : 275).
- Bahwa jin atau setan itu ada yang laki dan ada yang perempuan dan mereka sama dengan kita, kawin dan bercampur antara laki laki dan perempuan. Dalilnya Al Qur’an (yang artinya) : “Dan bahwasannya ada beberapa orang laki laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki laki diantara jin, maka jin jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jinn : 6). Juga hadits yang merupakan do’a yang kita baca ketika masuk WC (yang artinya) : “Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari jin yang laki laki dan yang perempuan”.
- Bangsa jin itu juga makan seperti kita, hanya saja makanannya tidak sama dengan makanan kita dan adakalanya dia mencuri makanan kita sebagaimana setan mencuri makanan zakat dari Abu Hurairah yang diperintah oleh Rasulullah saw. untuk menjaganya. Pada footnote-nya disebutkan makanan jin diantaranya adalah tulang dan kotoran, makanan manusia yang tidak menyebut nama Allah, dan minuman yang terlarang.
- Setan juga bermalam dan bertempat tinggal, ada kalanya mereka tinggal di rumah rumah kita. Untuk itulah perlu membaca do’a ketika masuk rumah agar setan tidak bermalam di rumah kita. Dalilnya adalah hadits dalam Shahih Muslim no. 2018 (yang artinya) : “Bila seseorang masuk rumahnya, lalu menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata (kepada kelompoknya) : Tidak ada penginapan bagi kamu dan tidak ada makanan malam bagi kamu. Jika seseorang itu masuk rumahnya dan tidak menyebut nama Allah, maka setan berkata (kepada kelompoknya) : Kamu mendapatkan penginapan. Dan jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka setan berkata (kepada kelompoknya) : Kamu akan mendapatkan penginapan dan makanan untuk malam.” Allaahu a'lam.
2. Eksistensi Makhluk Halus
Di lain pihak, ada
segolongan orang yang tidak percaya adanya jin atau minimal interaksi
manusia dengan jin, yang begini dia tidak punya rasa takut yang
berlebihan dan tidak percaya yang irrasional.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana sih hakikat kebenaran adanya jin itu sebenarnya? Apakah jin memang benar adanya dan bisa berinteraksi mengganggu manusia ? bagaimana pandangan agama Islam mengenai hal ini?
Pertanyaannya kemudian, bagaimana sih hakikat kebenaran adanya jin itu sebenarnya? Apakah jin memang benar adanya dan bisa berinteraksi mengganggu manusia ? bagaimana pandangan agama Islam mengenai hal ini?
3. Perihal Gangguan Jin
Secara umum, gangguan jin merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi keberadaannya, baik menurut pemberitaan Al-Qur`an, As-Sunnah, maupun ijma’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
“Dan
jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah
perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (Fushshilat: 36).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ
عَرَضَ لِي فَشَدَّ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِي
اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى
سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ
سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَم: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي
لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي. فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا
“Sesungguhnya setan
menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah
memberikan kekuasaan kepadaku untuk menghadapinya. Maka aku pun
membiarkannya. Sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga
kalian dapat menontonnya. Tapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman
‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”[1] .
Suatu ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mendirikan shalat, lalu didatangi
setan. Beliau memegangnya dan mencekiknya. Beliau bersabda:
حَتَّى إِنِّي لأَجِدُ بَرْدَ لِسَانِهِ فِي يَدَيَّ
“Hingga tanganku dapat merasakan lidahnya yang dingin yang menjulur di antara dua jariku: ibu jari dan yang setelahnya.”[2] .
Diriwayatkan dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلاَتِي وَقِرَاءَتِي
يَلْبِسُهَا عَلَيَّ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ
فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا. قَالَ:
فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي
“Wahai
Rasulullah, setan telah menjadi penghalang antara diriku dan shalatku
serta bacaanku.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itulah
setan yang bernama Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka berlindunglah
kepada Allah darinya dan meludahlah ke arah kiri tiga kali.” Aku pun
melakukannya dan Allah telah mengusirnya dari sisiku. [3].
Gangguan jin juga bisa berupa masuknya jin ke dalam tubuh manusia yang diistilahkan orang sekarang dengan kesurupan atau kerasukan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a. berkata: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta kesepakatan salaful ummah dan para imamnya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah perkara yang benar dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275).
Dan dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah.”
Tidak ada imam kaum
muslimin yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang
kesurupan. Siapa yang mengingkarinya dan menyatakan bahwa syariat telah
mendustakannya, berarti dia telah mendustakan syariat itu sendiri. Tidak
ada dalil-dalil syar’i yang menolaknya.”[4] .
Ibnul Qayyim juga telah panjang lebar menerangkan masalah ini. [5].
4. Golongan yang Mengingkari Masuknya Jin ke dalam Tubuh Manusia (Kesurupan)
- Kaum orientalis, musuh-musuh Islam yang tidak percaya kecuali kepada hal-hal yang bisa diraba panca indra.
- Para ahli filsafat dan
antek-anteknya, mereka mengingkari keberadaan jin. Maka secara otomatis
merekapun mengingkari merasuknya jin ke dalam tubuh manusia.
- Kaum Mu’tazilah, mereka mengakui adanya jin tetapi menolak masuknya jin ke dalam tubuh manusia.
- Prof. Dr. ‘Ali Ath-Thanthawi,
guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia mengingkari dan mendustakan
terjadinya kesurupan karena jin dan menganggap hal itu hanyalah sesuatu
yang direkayasa [6].
- Dr. Muhammad Irfan. Dalam surat kabar An-Nadwah tanggal
14/10/1407 H, menyatakan bahwa: “Masuknya jin ke dalam tubuh manusia
dan bicaranya jin lewat lisan manusia adalah pemahaman ilmiah yang salah
100%.” (Idhahul Haq)
- Persatuan Islam (PERSIS). Dalam Harian Pikiran Rakyat tanggal 5 September 2005, mengeluarkan beberapa pernyataan yang diwakili Dewan Hisbahnya, sebagai berikut: “Poin 7 …Tidak ada kesurupan jin, keyakinan dan pengobatan kesurupan jin adalah dusta dan syirik.”
Semua pengingkaran atas kemampuan masuknya jin ke dalam tubuh manusia adalah batil. Hanya terlahir dari sedikitnya ilmu akan perkara-perkara yang syar’i dan terhadap apa yang ditetapkan ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata:
“Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekumpulan kaum yang
berkata bahwa jin tidak dapat masuk ke tubuh manusia yang kerasukan.’
Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, tidak benar. Mereka itu berdusta.
Bahkan jin dapat berbicara lewat lidahnya’.”[7] .
Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang
yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang
yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275).
Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari r.a.
mengatakan: “Yakni bahwa orang-orang yang menjalankan praktek riba
ketika di dunia, maka pada hari kiamat nanti akan bangkit dari dalam
kuburnya seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan yang dirusak
akalnya di dunia. Orang itu seakan kerasukan setan sehingga menjadi
seperti orang gila.” [8].
Al-Imam Al-Qurthubi r.a.
menegaskan: “Ayat ini adalah argumen yang mementahkan pendapat orang
yang mengingkari adanya kesurupan jin dan menganggap yang terjadi
hanyalah faktor proses alamiah dalam tubuh manusia serta bahwa setan
sama sekali tidak dapat merasuki manusia.” [9].
Al-Imam Ibnu Katsir r.a
berkata: “Yakni mereka tidak akanq bangkit dari kuburnya pada hari
kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan setan saat
setan itu merasukinya.” [10]..
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
http://www.asysyariah.com
http://www.islampos.com/sepuluh-alam-jin-menurut-quran-dan-sunnah-2-habis-81009/
sumber-sumber lain yang telah diedit.
***
[1]. (HR. Al-Bukhari no. 4808, Muslim no. 541 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
[2]. (HR. Ahmad, 3/82-83 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)
[3]. (HR. Muslim no. 2203 dari Abul ’Ala`)
[4]. (Majmu’ul Fatawa, 24/276-277, diambil dari tulisan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Idhahul Haq)
[5]. (Lihat Zadul Ma’ad, 4/66-69)
[6]. (lihat artikel Idhahul Haq fi Dukhulil Jinni Fil Insi, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu).
[7]. (Idhahu Ad-Dilalah, atau lihat Majmu’ul Fatawa, 19/10)
[8]. (Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur`an, 3/96)
[9]. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 3/355)
[10]. (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/359).
http://www.islampos.com/sepuluh-alam-jin-menurut-quran-dan-sunnah-2-habis-81009/
sumber-sumber lain yang telah diedit.
***
[1]. (HR. Al-Bukhari no. 4808, Muslim no. 541 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
[2]. (HR. Ahmad, 3/82-83 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu)
[3]. (HR. Muslim no. 2203 dari Abul ’Ala`)
[4]. (Majmu’ul Fatawa, 24/276-277, diambil dari tulisan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Idhahul Haq)
[5]. (Lihat Zadul Ma’ad, 4/66-69)
[6]. (lihat artikel Idhahul Haq fi Dukhulil Jinni Fil Insi, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu).
[7]. (Idhahu Ad-Dilalah, atau lihat Majmu’ul Fatawa, 19/10)
[8]. (Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur`an, 3/96)
[9]. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 3/355)
[10]. (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/359).
1. Nama-Nama Dedengkot Iblis dan Tugasnya
Iblis mempunyai wakil-wakil, lima diantaranya wajib kita waspadai.- Yang pertama bernama Tsabar yang selalu mendatangi orang yang sedang kesusahan atau tertimpa musibah kematian anak atau kerabat, dan lain-lain. Kemudian dia melancarkan bisikannya dan menyatakan permusuhannya kepada Allah. Diucapkannya melalui mulut orang yang tertimpa musibah itu keluh-kesah dan caci maki terhadap ketentuan (takdir) Allah atas dirinya. Untuk menghindarinya, hendaklah mengucapkan: A’udzu billaahi minasy-Syaithaani tsabarir-Rajiimi wa jundihii wa abnaa-ih. (Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan, Tsabar. Yang terkutuk, berikut pengikut-pengikut dan anak keturunannya).
- Yang kedua, namanya Daaksim, setan inlah yang selalu berusaha dengan sekuat tenaganya mencerai-beraikan ikatan perkawinan, mengobarkan rasa benci satu sama lain di kalangan suami-isteri, sehingga terjadi perceraian. Dia adalah anak kesayangan iblis di seantero kerajaannya yang sangat besar. Untuk menghadapinya, hendaklah mengucapkan:A’udzu billaahi minasy-syaithaahi daasimir-rajiim wa jundihii wa abnaa-ih. (Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan, Daasim, yang terkutuk, serta pengikut-pengikut dan anak keturunannya).
- Yang ketiga namanya Al-A’war, Mereka adalah spesialis dalam urusan mempermudah perzinahan. Anak-anaknya menjadikan indah bagian bawah tubuh kaum wanita ketika mereka keluar rumah, khususnya kaum wanita masa kini, betul-betul sangat menggembirakan iblis. Segala persoalan yang menyangkut dekadensi moral dan perzinahan berurusan dengan dia.
- Yang keempat, namanya Maswath. Dia dan seluruh penghuni kerajaannya, adalah spesialis menciptakan kebohongan-kebohongan besar maupun kecil. Bahkan kejahatan yang dilaikukannya sampai pada tingkat memperlihatkan diri dalam bentuk seseorang yang duduk dalam suatu pertemuan yang diselenggarakan oleh manusia, lalu menyebarkan kebohongan yang pada gilirannya disebarkan pula oleh setan.
- Yang kelima bernama Zalnabuur. Setan yang ini bergentayangan di pasar-pasar di seluruh penjuru dunia. Merekalah yang mengobarkan pertengkaran, caci-maki, perselisihan dan bunuh-membunuh antar sesame manusia.[1].
2, Spesialisasi dan Pembagian Tugas Menggoda Manusia
Di dalam tugas menggoda manusia, iblis dan setan tidaklah berjalan sendiri-sendiri, masing-masing telah mempunyai tugas dan spesialisasi utuk mampu menjinakkan korbannya.
Terdapat pasukan iblis yang tersebar di semua tempat. Mereka adalah setan-setan gentayangan. Berikut ini beberapa diantara pembagian kerja (descrition job - reds para setan:
- Diantara mereka ada yang bergerombol di jalan-jalan untuk menyambut kaum wanita yang keluar rumah dengan bersolek [2] setan-setan ini membuat indah kaum wanita itu dalam pandangan sebagian besar orang yang melihatnya, agar mereka semakin banyak menimbulkan dosa-dosa, dan orang-orang wara' akan melihat hal-hal yang diharamkan Allah [3]. Sedangkan pelaku maksiat semakin terjerumus dalam dosa.
- Diantara setan-setan ada yang spesialis membuat indah bagian bawah tubuh wanita, dengan menampakkan goyangan-goyangan tubuh dalam pandangan orang yang melihatnya. Mereka melakukan hal itu siang dan malam,dan hanya sedikit saja beristirahat.
- Sedangkan sebagian besar setan melakukan aktivitasnya secara gencar di kegelapan [4] yakni ketika malam tiba, dalam derajat kalau sekiranya kegelapan itu diangkat dari kalian niscaya kalian akan bisa melihat apa yang ada di sekitar kalian.
- Ada pula diantara mereka yang spesialis mengganggu anak-anak kecil , misalnya dengan membuat mereka bertengkar satu sama lain, atau membuat mainan salah seorang diantara mereka menarik keinginan kawannya untuk memiliki, sehingga mereka berebutan dan berkelahi, bahkan sampai ada yang mati. Tidak jarang pula pertengkaran yang dikobarkan setan di kalangan anak-anak itu memancing keterlibatan orang tua dan keluarga masing-masing. Dalam keadaan seperti ini, setan semakin meningkatkan jumlah personilnya, sehingga pertengkaran tersebut semakin menjadi-jadi, dan akhirnya menimbulkan kejahatan.
Orang yang berakal dan bijak akan selamat dari ganggguan seperti ini. Akan tetapi ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, maka kesadarannya menjadi hilang. Setan hapal betul akan hal itu. Karena itu, mereka segera mengumpulkan pasukan untuk menjatuhkan orang yang seperti itu.
na'udzu billaahi min dzaalik.
3.Beberapa Tempat Mangkal Setan
- Diantara setan-setan itu ada yang terdiri dari kelompok-kelompok dan pasukan-pasukan yang spesialis hidup di lubang-lubang kotoran.
- Juga ada diantara setan yang tinggal di rahim dan kemaluan para pelacur, untuk membuat kemaksiatan tersebut semakin menawan, sehingga kaum laki-laki yang menggaulinya semakin ketagihan.
- Ada pula diantara mereka yang bertempat di anus laki-laki dan perempuan, sehingga mengundang manusia untuk melakukan persenggamaan lewat dubur, dan memudahkan terjadinya homoseksual.
- Adapula diantaranya yang tinggal di kemaluan-kemaluan abnormal, sehingga mengundang orang untuk melakukan hubungan-hubungan seksual yang abnormal pula.
- Ada pula yang tinggal di kandang-kandang binatang, tempat-tempat hiburan, untuk melancarkan bisikan terhadap orang yang mendatangi tempat seperti ini, dan menemani mereka dengan setia.
- Lalu ada pula yang aktif di tempat-tempat hiburan, misalnya diskotek.
Tempat seperti itu merupakan pangkalan ribuatn setan. Di situ mereka
menampakkan diri dalam berbagai bentuk, khususnya karena setan sangat
senang pada nyanyian dan musik yang hingar-bingar. Mereka asyik berjoged
dalam derajat yang betul-betul tidak bisa kalian bayangkan.
Akibat Homo Seksual dan Perilaku Seks Menyimpang lainnya
Orang berperilaku seks menyimpang, rawan terjangkit berbagai macam penyakit, sbb.:
- Disentri dan penyakit-penyakit lain yang sejenis yang ditularkan oleh bebagai bakteri melalui organ pencernaan.
- Impotensi, akibat hubungan seks melalui anus, mengakibatkan disfungsi syaraf di bawah otak.
- Pendarahan pada kelamin dan anus, pendarahan
terjadi pada dinding anus karena tersobek atau mengalami infeksi. Dari
situ bisa muncul lebih dari 124 jenis penyakit pada pelaku liwath (homoseks).
- Berkembang biaknya penyakit-penyakit kelamin seperti sipilis, gonorrhoea, khususnya AIDS.
- Memperlemah organ keturunan paling penting dalam tubuh, berpengaruh terhadap sperma, dan akhirnya terjadi kemandulan.
- Hubungan abnormal tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan total persebadanan, sehingga bisa menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan perilaku.
- Karena hilangnya keseimbangan jiwa, menyebabkan mereka hanya mencintai bagian tertentu saja dari kaum wanita. Misalnya matan, rambut, celana dalam, BH mereka.
- Berpengaruh terhadap kemerosotan daya pikir.
- Menyebabkan terjadinya pembengkakan dan pendarahan pada saluran pembuangan karena pecahnya pembuluh darah sekitar anus.
4. Batas Usia Jin
Diantara jin, ada yang berusia
tiga ribu tahun, ada yang empat ribu, lima ribu dan enam ribu tahun. Bahkan ada
pula yang usianya mencapai tujuh ribu tahun, sekalipun sedikit sekali
jumlahnya. Akan tetapi di kalangan seperti iblis, mereka hidup sejak
dulu, misalnya kelima anak iblis yang disebutkan di atas, dan masih hidup
sampai kini. Allaahu a’lam.
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ
ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ “Maha suci Engkau ya
Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan
Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Buku Dialog dengan Jin Muslim hal.61-64,78-80,80-82; Muhammad Isa Daud, Penerbit: Pustaka Hidayah.
Keterangan:
Tulisan dengan blok warna merah
adalah pengakuan dari jin Muslim; untuk membedakannya dengan keterangan
dari Al-qur'an, Sunnah atau penjelasan ulama dan yang lain-lain.
Harapannya agar pegakuan itu diteliti dan ditimbang-timbang tingkat
kebenarannya.
***
[1].Penjelasan tentang ini bisa
didapati di dalam kitab Akaam al-marjaan karya Asyibli, yang meriwayatkan
sebuah hadits dari Zaid bin Mujahid yang mengatakan bahwa: “Iblis mempunyai
lima anak, yang masing-masing diserahi tugas tertentu. Kemudai dia memberi nama
masing-masing anaknya itu: Tsabar, Al-A’war, maswath, Daasim dan Zalnabuur.
Tsabar adalah iblis yang bertanggung-jawab masalah-masalah yang mendorong
manusia untuk berkeluh-kesah, menyobek-nyobek baju, meratap-ratap dengan
ratapan jahiliyah, dan sebagainya. Al-A’war bertanggung-jawab terhadap
merajalelanya perzinahan. Dia mendorong orang untuk melakukan perzinahan dan memperlihatkannya kepada
mereka sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan. Maswath
bertanggung-jawabterhadap penyebaran kebohongan yang kemudian didengar oleh
seseorang yang selanjutnya menyebarkannya denganbaik. Orang tersebut akan
menemui kaumnya lalu mengatakan, “Ada orang yang sangat tampan yang tidak saya
ketahui namanya. Dia menyampaikan kepadaku begini dan begitu” Daasim adalah
iblis yang menemaini seseorang ketika ia menemui keluarganya, lalu
memperlihatkanberbagai aib pada diri mereka, sehingga orang itu menjadi
marah-marah tidak karuan. Sedangkan Zalnabur adalah iblis yang bertugas di
pasar-pasr dan mengibarkan benderanya di sana
[2]. Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya
wanita itu, ketika datang dari depan, dia datang dalam sosok setan, dan
ketika pergi (menghadapkan punggung) dia memperlihatkan diri dalam
sosok setan pula. Karena itu, jika salah seorang diantara kamu melihat
seorang wanita yang menarik perhatiannya, maka hendaknya dia segera
mendatangi isterinya, sebab yang demikian itu dapat menolak (gejolak)
yang ada dalam dirinya." (H.R.Muslim dari Ibn Az-Zubair).
[3]. Nabi saw. bersabda: :"Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang paling berbahaya sesudahku nanti, kecuali fitnah yang dihadapi kaum laki-laki karena kaum wanita."(H.R. Bukhari, Muslim dari Usamah bin Zaid r.a.).
Dalam shahih Muslim dikatakan pula sabda Nabi saw. dari Abi Said al-Khudri: "Hendaknya kalian takut terhadap (godaan) dunia, dan takut pulalah kalian terhadap (godaan) wanita." Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak ada di kalangan orang-orang terdahulu yang menjadi kafir, kecuali gara-gara wanita, dan orang-orang yang terkemudian pun kafir gara-gara wanita pula."
Sementara itu, Said ibn al-Musayyah mengatakan, "Setiap kali setan berputus asa mengganggu seseorang, maka dia akan melancarkan gangguannya melalui wanita."
[4]. Rasulullah saw. bersabda: "Apabila telah datang senja hari, atau sore (menjelang malam) kepadamu, maka jagalah anak-anakmu sebab saat itu setan sedang berkeliaran. Dan ketika malam sudah berjalan beberapa waktu, maka asingkan mereka (di dalam rumah) dan tutuplah pintu-pintu rumahmu, lalu sebut asma Allah. Sebab, setan tidak pernah membuka pintu yang tertutup. Tutuplah bejanamu, dan sebutlah nama Allah,dan kalau kamu hendak megeluarkan sesuatu darinya, maka padamkanlah lampumu."(H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Ibnu Majah mentakhrij dari Jabir r.a).
[3]. Nabi saw. bersabda: :"Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang paling berbahaya sesudahku nanti, kecuali fitnah yang dihadapi kaum laki-laki karena kaum wanita."(H.R. Bukhari, Muslim dari Usamah bin Zaid r.a.).
Dalam shahih Muslim dikatakan pula sabda Nabi saw. dari Abi Said al-Khudri: "Hendaknya kalian takut terhadap (godaan) dunia, dan takut pulalah kalian terhadap (godaan) wanita." Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak ada di kalangan orang-orang terdahulu yang menjadi kafir, kecuali gara-gara wanita, dan orang-orang yang terkemudian pun kafir gara-gara wanita pula."
Sementara itu, Said ibn al-Musayyah mengatakan, "Setiap kali setan berputus asa mengganggu seseorang, maka dia akan melancarkan gangguannya melalui wanita."
[4]. Rasulullah saw. bersabda: "Apabila telah datang senja hari, atau sore (menjelang malam) kepadamu, maka jagalah anak-anakmu sebab saat itu setan sedang berkeliaran. Dan ketika malam sudah berjalan beberapa waktu, maka asingkan mereka (di dalam rumah) dan tutuplah pintu-pintu rumahmu, lalu sebut asma Allah. Sebab, setan tidak pernah membuka pintu yang tertutup. Tutuplah bejanamu, dan sebutlah nama Allah,dan kalau kamu hendak megeluarkan sesuatu darinya, maka padamkanlah lampumu."(H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Ibnu Majah mentakhrij dari Jabir r.a).
Tempat Tinggal yang Disukai Jin/Setan Di Rumah Kita dan Aktifitasnya
bangsa jinبِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Apakah di semua tempat itu dihuni bangsa jin
? atau jin hanya menempati tempat tertentu di luar komunitas manusia ?
atau di manakah tempat-tempat favorit para jin untuk tinggal dan
beraktifitas di sekitar kita ? Pertanyaan semacam ini sudah umum menjadi
misteri bagi sebagian banyak orang, bahkan kadang dicampur dengan
anggapan mistik dan tahayyul.
Artikel ini membatasi hanya wilayah tinggal setan di rumah kita,
dengan berdasar kepada nash yang bisa dipertanggung-jawabkan. Manusia hanya menghuni
permukaan bumi yang merupakan daratan, dengan mengecualikan lalu-lalang
mereka di lautan dan di udara saat mereka bepergian. Lautan dan
samudera, dewasa ini merupakan bagian terbesar planet bumi, dengan
perbandingan 72 % berupa lautan dan hanya 28 % saja yang terdiri
daratan, yang menyebabkan para cerdik-pandai menyebut bumi kita ini
dengan “Planet Air.”
Bahkan daratan yang
jumlahnya seluas itu pun belum seluruhnya dihuni oleh manusia. Manusia
baru menghuni dan memanfaatkan sekitar seperempatnya saja, sebagian
besar darinya masih tetap kosong.
1. Tempat Tinggal Bangsa Jin
Sementara itu, jin telah
menghuni dan mendirikan sebagian besar kota-kota serta pusat-pusat
pemerintahan mereka di atas air. Walaupun begitu, ada pula kota-kota dan
pusat-pusat pemerintahan yang terletak di bagian-bagian samudera yang
dalam dan di sungai-sungai. Selain itu mereka juga menghuni
padang-padang pasir luas dan tempat-tempat terpencil, gunung-gunung
maupun jurang-jurangnya, termasuk gua-gua dan hutan-hutan. Bahkan ada
sebagian di antara mereka yang tinggal di atap-atap dan kamar-kamar di
rumah yang dihuni manusia. Yang lain lagi, menjadikan rumah-rumah kita
sebagai tempat tinggalnya yang tetap, baik di kamar-kamar maupun
lorong-lorong rumah kita. Banyak pula setan yang bertempat tinggal di
kamar-kamar mandi, comberan, dan selokan-selokan.
2. Tempat-Tempat Kesukaan Setan Di Rumah Kita
Setan-setan amat suka hidup di sumur kosong. Najis-najis dan kotoran sangat menarik mereka. Karena itu, jika mereka mendengar adzan, maka mereka pergi jauh-jauh ke tempat-tempat di dekat air. Mereka menutup telinga mereka dengan kedua tangan mereka, atau menutupkan baju mereka ke kapala mereka. Bahkan diantara mereka ada yang bersembunyi di lubang-lubang pembuangan [1]. Dan kotoran. Itu sebabnya pula, maka jika engkau masuk de kamar mandi untuk berwudhu, dahulukan kaki kirimu sambil mengucapkan do’a: A’udzu billaahil-‘azhiim minal khubutsi wal khabaa’its (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dari gangguan setan jantan dan setan betina). [2].
Ingatkan kaum wanita agar tidak membuang air (panas)
mendidih di lubang-lubang WC tanpa menyebut atsma Allah dan tidak pula memohon
perlindungan kepada-Nya dari gangguan setan yang terkutuk. Kadang-kadang air
tersebut dapat mematikan setan, sehhingga keluarganya mencoba melakukan balas
dendam terhadap pemilik rumah. Kalau setan-setan bisa menampakkan diri
(menyerupai tubuh mereka), niscaya mereka akan melakukan hal itu.
3.Tempat Tidur Kosong
Hadits-Hadits Terkait
2. Di Kamar Kosong
Jin Muslim, nara sumber, menagatakan, "Berhati-hatilah, jangan sampai engkau membiarkan salah satu kamar di rumahmu dalam keadaan lowong dari aktivitasmu, baik tidur maupun berdzikir kepada Allah. Sebab, kalau engkau kosongkan kamar tidurmu, maka setan akan tidur di atas tempat tidurmu, dan mengisi kamar kosong itu.
Dalam sebuah hadits shahih Muslim dikatakan bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Kamar pertama untuk laki-laki, kamar kedua untuk isterinya, kamar ketiga untuk tamu, dan kamar keempat untuk setan" [3]. Para ulama seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini bermakna sesuatu yang melebihi kebutuhan, adalah kemewahan dan pamer kekayaan duniawi.
Yang sejalan dengan sifat seperti itu semuanya tercela, dan setiap yang
tercela selalu terkait dengan setan. Sebab, setan sangat menyukainya
dan mendorong manusia untuk melakukan hal itu.
3.Tempat Tidur Kosong
Setiap
tempat tidur yang ditinggalkan berarti disodorkan kepada setan untuk
mereka tiduri. Bahkan tempat tidur yang sama yang selama ini engkau
gunakan. Kalau tidak demikian, kenapa Nabi Muhammad saw. mengatakan, 'Apabila
salah seorang diantara kalian bangun dari tempat tidurnya, lalu hendak
tidur lagi di atasnya, hendaknya ia terlebih dulu membersihkannya dengan
sarungnya [4] tiga kali. Sebab ia tidak tahu secara pasti apa yang akan terjadi di atasnya sesudah dia tinggalkan."
Intinya, kamar dan
tempat tidur yang kosong, seratus persen, tidak hanya ditempati oleh
satu setan saja, melainkan banyak setan, sepanjang di situ tidak
pernah disebut nama Allah atau firman-Nya.
- Bukhari menuliskan dalam Kitab al-Da'awaat, diterima dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Apabila salah seorang diantara berbaring di tempat tidurnya, maka hendaklah ia membersihkannya dengan menyapukan bagian dalam sarungnya, sebab dia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya. Sesudah itu hendaklah dai membaca do'a: "Dengan nama-Mu, Tuhanku, aku meletakkan punggungku, dan dengan nama-Mu pula aku meninggalkannya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, maka sayangilah ia, dan jika Engkau mengembalikannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hama-hamba-Mu yang shaleh."
- Adapun redaksi Muslim dari Abu Hurairah r.a. berbunyi sebagai berikut: Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Apabila salah seorang diantara kamu tidur di tempat tidurnya, maka gunakan bagian dalam sarungnya untuk menyapu tempat tidurnya, dan sebutlah nama Allah. Sebab, dia tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya setelah dia meninggalkannya. Dan kalau dia bermaksud berbaring, maka hendaklah dia berbaring dengan pinggang bagian kananya, lalu berdo'a, "Maha suci Allah, Tuhanku. Dengan nama-Mu aku meletakkan punggungku dan dengan nama-Mu pula aku mengangkat pinggangku (bangun). Sekiranya Engkau cabut nyawaku, maka ampunilah ia, dan jika Engkau mengembalikannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih."
- Imam Nawawi mengatakan, "Bagian dalam sarungnya, artinya ujung sarungnya. Maksudnya, dianjurkan bagi seseorang untuk membersihkan tempat tidurnya dengan menyapukan ujung sarung sebelum dia tidur, agar tidak terdapat ular atau kalajengking atau binatang-binatang berbahaya lainnya.
3. Karakter Jin Yang Menghuni Rumah Kita
Ternyata bangsa jin juga memiliki peradaban. Yang dimaksud dengan peradaban dalam kaitannya dengan jin adalah tempat-tempat yang dihuni manusia di kota-kota, desa-desa, dan rumah-rumah manusia. Jin berperadaban, lazimnya, jin Muslim, dengan mengecualikan mereka yang beragama lain, misalnya yang beragama Kristen, sekalipun sebagian besar mereka lebih senang tinggal di gereja-gereja. Demikian pula halnya dengan jin-jin yang beragama Yahudi yang tinggal di rumah-rumah dan kanisaah-kanisaah orang-orang Yahudi. Mereka saling memperngaruhi satu sama lain.
Perihal Jin Muslim dan aktifitasnya di Rumah Kita
1. Jika penghuni selalu durhaka/bermaksiat.
Jin Muslim selalu mencari rumah yang penghuninya tunduk kepada Allah SWT, yang betul-betul muslim dan tidak sekedar muslim nominal. Jin-jin Muslim tersebut jika melihat penghuni Muslim di rumah tersebut tidak melaksanakan perintah Allah, maka dengan sedih mereka meninggalkan rumah itu, untuk kemudian mencari rumah lain yang penghuni-penghuninya taat kepada Allah SWT.
Jin Muslim selalu mencari rumah yang penghuninya tunduk kepada Allah SWT, yang betul-betul muslim dan tidak sekedar muslim nominal. Jin-jin Muslim tersebut jika melihat penghuni Muslim di rumah tersebut tidak melaksanakan perintah Allah, maka dengan sedih mereka meninggalkan rumah itu, untuk kemudian mencari rumah lain yang penghuni-penghuninya taat kepada Allah SWT.
2. Tingkat keislaman.
Jin Muslim adalah makhluk yang betul-betul Muslim. Mereka bisa menghafal ajaran-ajaran agamanya dengan kecakapan yang luar biasa. Kalbu mereka terisi keimanan dalam derajat yang, jika mereka mendengar Al-Qur’an dibaca, mereka “khusyu” mendengarkan, untuk kemudian menangis tersedu-sedu karena takut kepada Allah – suatu tangisan yang sanggup meluluhkan hati orang yang paling keras sekalipun.
Jin Muslim adalah makhluk yang betul-betul Muslim. Mereka bisa menghafal ajaran-ajaran agamanya dengan kecakapan yang luar biasa. Kalbu mereka terisi keimanan dalam derajat yang, jika mereka mendengar Al-Qur’an dibaca, mereka “khusyu” mendengarkan, untuk kemudian menangis tersedu-sedu karena takut kepada Allah – suatu tangisan yang sanggup meluluhkan hati orang yang paling keras sekalipun.
3. Aktifitas harian di rumah.
Jin di dalam rumah manusia sepanjang hari mereka duduk-duduk di atap rumah tanpa terganggu, ketika penghuni menyiapkan makanan, mereka turun dan ikut makan bersama penghuni. Ketika kita selesai makan dan mengangkat piring-piring, mereka mengucapkan Alhamdulillah dan pergi lagi sampai kelak datang malam hari, dan mereka shalat dan kembali bertengger sebentar di atas atap. Ketika telah lelah, mereka turun dan tidur di mana saja: di kursi, di permadani, dan di serambi. Kemudian mereka shalat Tahajjud di tengah malam. Saat mereka duduk-duduk di atas atap, bergelayutan di tiang-tiang, dan bersandar di mana saja, mereka tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya.
Jin di dalam rumah manusia sepanjang hari mereka duduk-duduk di atap rumah tanpa terganggu, ketika penghuni menyiapkan makanan, mereka turun dan ikut makan bersama penghuni. Ketika kita selesai makan dan mengangkat piring-piring, mereka mengucapkan Alhamdulillah dan pergi lagi sampai kelak datang malam hari, dan mereka shalat dan kembali bertengger sebentar di atas atap. Ketika telah lelah, mereka turun dan tidur di mana saja: di kursi, di permadani, dan di serambi. Kemudian mereka shalat Tahajjud di tengah malam. Saat mereka duduk-duduk di atas atap, bergelayutan di tiang-tiang, dan bersandar di mana saja, mereka tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya.
4. Kehadirannya pertanda baik.
Adanya jin Muslim di rumah seorang Musim merupakan pertanda baik dan bukti dari kenikmatan dan ridha yang diberikan Allah SWT. Kepada penghuninya. Jin Muslim tersebut mendo'akan dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi penghuni rumah. Bahkan ada diantara mereka yang membangunkan penghuni rumah untuk shalat fajar atau bangun tengah malam [5]. Demikian pula qarin (jin pengikut) anda, jika dia Muslim. Karena itu, jangan kita takut-takuti mereka dengan melakukan kemaksiatan dan lalai dari dzikir kepada Allah. Jika demikian, mereka pasti akan meninggalkan rumah kita seraya mereka menyimpan di dalam hatinya suatu ganjalan, seakan-akan kita telah mengusir mereka dan menggantikannya dengan setan-setan.
Adanya jin Muslim di rumah seorang Musim merupakan pertanda baik dan bukti dari kenikmatan dan ridha yang diberikan Allah SWT. Kepada penghuninya. Jin Muslim tersebut mendo'akan dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi penghuni rumah. Bahkan ada diantara mereka yang membangunkan penghuni rumah untuk shalat fajar atau bangun tengah malam [5]. Demikian pula qarin (jin pengikut) anda, jika dia Muslim. Karena itu, jangan kita takut-takuti mereka dengan melakukan kemaksiatan dan lalai dari dzikir kepada Allah. Jika demikian, mereka pasti akan meninggalkan rumah kita seraya mereka menyimpan di dalam hatinya suatu ganjalan, seakan-akan kita telah mengusir mereka dan menggantikannya dengan setan-setan.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat
Sumber:
Buku Dialog dengan Jin Muslim hal. 68-72, 76-78 Muhammad Isa Daud, Penerbit: Pustaka Hidayah.
***
Keterangan:
Tulisan dengan warna huruf kuning adalah pengakuan dari jin Muslim; untuk membedakannya dengan keterangan dari Al-qur'an, Sunnah atau penjelasan ulama dan yang lain-lain. Harapannya agar pengakuan itu diteliti dan ditimbang-timbang tingkat kebenarannya.
***
Keterangan:
Tulisan dengan warna huruf kuning adalah pengakuan dari jin Muslim; untuk membedakannya dengan keterangan dari Al-qur'an, Sunnah atau penjelasan ulama dan yang lain-lain. Harapannya agar pengakuan itu diteliti dan ditimbang-timbang tingkat kebenarannya.
***
]1]. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw.
Berkata: “Apabila panggilan untuk shalat dikumandangkan, maka setan lari
terbirit-birit dan menjauh hingga tidak mendengar adzan. Tetapi jika adzan
sudah selesai dikumandangkan, dia kembali. Ketika iqamat dikumandangkan, dia
menyingkir, tetapi begitu iqamat selesai dikumandangkan, ia datang lagi.
(kemudian dia membisikkan kepdaa orang yang shalat) dengan mengatakan,
‘Ingatlah ini ingatlah itu.’ Yakni sesuatu yang tadi tidak diingat oleh orang
yang shalat itu, sehingga dia tidak ingat lagi berapa rakaat dia dia telah
shalat (Mutafaq ‘alaih).
[2]. Dari Zaid bin Arqam, dari Rasulullah saw., bahwasanya
beliau berkata, “Sesungguhnya semak-semak (yang dijadikan tempat buang hajat)
ada penghuninya, jadi kalau salah seorang diantara kalian ke kamar kecil, maka
bacalah, ‘Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setan lak-laki dan setan
perempuan.’
[3]. H.R.Muslim dari Jabir bin Abdullah.
[4]. Hadits shahih yang diriwayatkan oleh muttafaq 'alaih, akan tetapi lafadz shanaafaat (ujung sarung) terdapat dalam hadits yang diriwayatkan ath-Thabrani, sedangkan Malik menggunakan redaksi shanafaat tsaubih (ujung bajunya). Riwayat sebagaimana hadits di atas adalah ujung dari hadits ath-Thabrani dari Abu Hurairah r.a.
[5]. Shalat Fajar, yakni shalat sebelum shubuh, berdasarkan sabda Rasulullah saw.yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. , dikatakan: “ Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi.
[5]. Shalat Fajar, yakni shalat sebelum shubuh, berdasarkan sabda Rasulullah saw.yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. , dikatakan: “ Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar